Tampak terlihat warga sedang mengangsu dengan cara tradisional di Sendang Dusun.
Laporan: Alfito D | Editor: Shodiq
BRINGIN, KABARKS.COM – Sebanyak 74 Kepala Keluarga (KK) di Dusun Senggrong, Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, terpaksa kembali ke cara tradisional untuk mendapatkan air bersih. Sudah sepekan terakhir, warga harus memikul jeriken (ngangsu) dari sendang desa akibat kerusakan mesin pompa Pamsimas "Tirto Wening".
Insiden ini dipicu oleh masalah sepele namun berdampak fatal. Seekor tokek ditemukan bersarang di dalam kotak kelistrikan mesin pompa sumur bor, yang menyebabkan hubungan arus pendek (korsleting). Akibatnya, mesin penggerak hangus terbakar dan distribusi air ke rumah warga terhenti total.
Kondisi ini sangat menyulitkan warga, terutama bagi mereka yang tidak memiliki sumur gali pribadi. Untuk kebutuhan mencuci dan memasak, warga harus menempuh jarak ke mata air umum, sementara untuk konsumsi mereka terpaksa merogoh kocek lebih dalam.
"Kembali seperti zaman dulu lagi. Untuk cuci dan masak kami harus ngangsu ke sendang, sedangkan untuk minum terpaksa beli air galon," ujar salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, Jumat (13/3).
Ketua Pengurus Pamsimas Tirto Wening, Alex, menjelaskan bahwa perbaikan membutuhkan penggantian mesin baru dengan estimasi biaya mencapai Rp10 juta. Mengingat urgensi kebutuhan air menjelang bulan Ramadan dan Lebaran, warga melalui koordinasi grup WhatsApp sepakat melakukan iuran swadaya sebesar Rp150.000 per rumah.
"Mesin terbakar karena kemasukan tokek. Kami ajak warga iuran agar mesin bisa segera diganti dan air kembali mengalir sebelum puasa," kata Alex.
Meski langkah swadaya telah diambil, warga tetap menaruh harapan besar pada perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang. Tokoh masyarakat setempat, Poniman, menyebutkan bahwa debit air dari sumur bor lama sudah tidak maksimal, terutama saat musim kemarau.
Warga mengusulkan agar Pemkab Semarang memberikan bantuan pembuatan sumur bor baru di lokasi tersebut.
"Kami manut soal iuran demi percepatan, tapi kami juga berharap pemerintah daerah peduli. Kendala utama kami adalah biaya besar untuk pembuatan sumur bor baru, apalagi Dusun Senggrong ini termasuk wilayah sulit air," harap Poniman. (*)
0 Komentar