Tradisi Sadranan Makam Jambu Mete: Momentum Kirim Doa dan Pengingat Kematian


Suasana  Sadranan di Makam Jambu Mete Dusun Jrebeng Desa Wiru Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang, Rabu(11/2) pagi.

Laporan : Alfito D

BRINGIN, KABAR KS.COM  – Ratusan warga Dusun Jrebeng, Desa Wiru, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang berkumpul di kompleks Makam Jambu Mete pada Rabu Wage pagi (11/2/2026) atau bertepatan dengan 23 Sya’ban 1447 H. Kehadiran warga tersebut guna melaksanakan tradisi Sadranan, sebuah ritual tahunan untuk menghormati leluhur menjelang datangnya bulan suci Ramadhan.

Acara yang berlangsung khidmat ini menghadirkan KH. Khanifudin dari Ambarawa sebagai penceramah. Dalam tausiyahnya, Kyai Khanifudin menekankan bahwa dalam pandangan Islam, Sadranan bukan sekadar adat, melainkan perwujudan nyata dari nilai birrul walidain atau berbakti kepada orang tua.

"Berbakti kepada orang tua tidak terputus meski mereka telah tiada. Salah satu caranya adalah dengan mengirimkan doa melalui momentum Sadranan ini," terang Kyai Khanifudin di hadapan para jemaah.

Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa esensi mendatangi makam adalah sebagai pengingat akan kematian (dzikrul maut). Hal ini penting agar setiap insan senantiasa mempersiapkan bekal amal shalih dan tidak terlena dengan urusan duniawi yang sementara.

Sejarah Makam Jambu Mete

Di sisi lain, tradisi ini juga menjadi ruang untuk merawat sejarah lokal. Menurut penuturan Mbah Tasmi, salah satu sesepuh Dusun Jrebeng, penamaan "Makam Jambu Mete" merujuk pada keberadaan pohon jambu mete yang tumbuh di area tersebut sejak lama.

Mbah Tasmi mengisahkan bahwa sosok yang pertama kali dimakamkan atau menjadi cikal bakal (pepunden) di lokasi tersebut adalah Mbah Buyut Puter. Meski demikian, detail waktu kapan beliau wafat dan dimakamkan tidak diketahui secara pasti.

"Para sesepuh tidak ada yang tahu persis tahunnya, namun diperkirakan sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu," ungkap Mbah Tasmi.

Kegiatan Sadranan ini ditutup dengan doa bersama dan makan bersama sebagai simbol kerukunan antarwarga Dusun Jrebeng, sekaligus persiapan spiritual menyambut bulan puasa yang tinggal menghitung hari.(*)

0 Komentar